Calon Jamaah Umrah Gagal Berangkat Lapor Polda Jatim
SURABAYA (tribratanews.jatim.polri.go.id) - Puluhan calon jamaah umrah asal berbagai daerah di Jawa Timur mendatangi SPKT Polda Jatim, Rabu (23/9/2026) siang. Mereka melaporkan PT AAT dan pemiliknya berinisial EKN alias N ke Polda Jatim atas dugaan penipuan dan penggelapan.
Puluhan calon jamaah umroh yang sudah membayar lunas gagal berangkat ke tanah suci dan tidak ada pengembalian dana dari pihak travel.
Salah satu korban Haniatur Rohmah mengatakan, awalnya ikut umroh melalui travel PT AAT karena tergiur umroh murah yang ditawarkan di media sosial (medsos) PT AAT. Untuk program umrah selama 12 hari dan 16 hari tarif yang ditawarkan berada di kisaran Rp 19, 5 juta hingga Rp 25 juta.
"Tertarik karena PT besar dan ada agen-agenya di tiap daerah. Selain itu harganya murah," ujarnya, Rabu (23/9/2026). Perempuan asal Gresik mengaku dirinya sebenarnya berangkat pada 20 September 2026 dan sudah membayar lunas. Namun hingga sekarang tidak ada kejelasan. Selain itu, jamaah yang berangkat pada 10 September 2026 juga gagal berangkat.
"H-5 kalau enggak salah itu diumumkan oleh kuasa hukumnya, katanya di hari Jumat dan Sabtu sebelum keberangkatan tanggal 20, itu bisa untuk melaporkan di kantor. Melaporkan di kantor untuk yang pertama, menunda keberangkatan atau yang kedua, refund pengembalian dana," ungkapnya.
Setelah pengumuman tersebut sampai sekarang tidak ada kejelasan atau jawaban apapun dari kuasa hukum atau pemilik. Iin mengaku sebenarnya telah mempersiapkan keberangkatan bersama anaknya. Mulai dari paspor dan vaksin secara mandiri. Selama proses menjelang keberangkatan dirinya sempat mendapatkan koper dan seragam batik.
"Korban ada dari Sidoarjo, Gresik, Mojokerto, Lamongan, Pasuruan, Makasar dan beberapa daerah lainnya," bebernya. Sementara korban lainnya Adi Puryanto menambahkan, jamaah yang gagal berangkat ada sekitar 4 ribu jamaah dari berbagai daerah.
Para korban berasal dari Sidoarjo, Surabaya, Gresik, Mojokerto, Pasuruan, Lamongan, Makasar dan Jombang. "Jamaah yang terdampak sekitar 4 ribu. Jadi kalau ditotal kerugian 4 ribu itu kalau ditaksir ya Rp 120 miliar," sebutnya. (mbah/*)








